Perempuan Penjaga Toko (Pemenang 2 Lomba Kisah Kader PKS)

Kamis, 08 November 20120 komentar

Aku bahkan tak mengenal namanya. Nama perempuan itu, perempuan penjaga toko.

Lagipula, apa istimewanya? Ia hanyalah seorang perempuan berjilbab lebar yang menurutku sama sekali tak menarik dan ramah. Suaranya berat seperti laki – laki, bahkan ketika kutanya tentang buku – buku yang dijualnya, ia tak pernah sedikitpun menatap wajahku, seolah aku adalah alien buruk rupa yang baru turun di bumi.

Menyebalkan sekali, bukan?!

Tapi, aku menemukan sesuatu yang lain  pada perempuan itu. Sesuatu yang membuat aku merenungi perjalanan waktuku.

Dahulu, aku paling alergi dengan perempuan berjilbab, lebih – lebih yang berjilbab lebar. Aku mengganggap mereka seumpama alien nyasar yang tak seharusnya berada di bumi. Aku memang berasal dari keluarga muslim abangan.

Tiap kali acara tujuh belasan, biasanya diadakan lomba gerak jalan indah di kotaku. Sejak SD, aku selalu mentertawakan jika pasukan berjilbab itu mengikuti lomba. Seperti sekumpulan alien yang hendak meneror bumi.

Astagfirullah..., mengingat itu, ada suatu penyesalan yang menghantam dadaku. Sakit sekali...

Sampai akhirnya aku bertemu dengan perempuan itu. Pertemuan tak terduga sebenarnya.

Aku masih ingat, sebelumnya, di sekolahku SMAN 1 Bolo, aku meminjam majalah kumuh milik temanku. Di sampulnya yang sederhana tercetak Annida, nama majalah itu. Sebenarnya, aku tidak ingin menyentuh majalah kumuh milik temanku itu. Tapi kegilaannku membaca ternyata lebih kuat dari itu.

Kupinjam majalah itu. Mataku liar membaca barisan makna dalam kekumuhan majalah itu.

Akupun menjadi pemburu. Pemburu majalah itu! Sayangnya, aku tak menemukan satu toko bukupun yang menjual majalah itu.

Sampai akhirnya, dengan tak terduga, kutemukan majalah itu di sebuah toko kecil, toko Madinah (toko perempuan itu), itupun di kota Bima, bukan di kampungku yang mungil.

Dan... perempuan itu, dengan wajah yang tak ramah menyambutku. Kuronggok kantungku, hanya tersisa beberapa lembar ribuan. Itupun untuk ongkos pulang dan uang jajan.

“Mbak..., Annidanya ada yang bekas?!” tanyaku malu-malu.

“Maaf mas..., adanya cuma yang baru.” (mungkin sambil berpikir, kere amat nih anak. Hehehe...)

Pupus sudah harapanku membaca majalah itu hari itu. Padahal seleraku telah mencapai ubun – ubun untuk melahap rakus rubrik – rubriknya.

Keesokan harinya, kudatangi lagi toko itu dengan semangat 45. dengan penuh senyum, kubawa pulang Annidaku. Aku masih ingat, kisma (Kisah utama) Annida pertama yang kubaca itu adalah Segalanya Tentang Rizal karya El-Syifa. Kisah yang menyentuh dan membuatku berkaca-kaca.

Berbulan - bulan lamanya aku mengenal perempuan itu. Banyak yang tak kumengerti tentangnya dan kesemuanya membuatku jengkel padanya. Yang paling membuat hatiku ngilu selain ia tak mau melihat wajahku, ketika beberapa kali aku hendak berpamitan padanya (aku kan cowok ramah, getho...! and aku ingin ngajarin dia cara ber-SOPAN SANTUN! Hehehe...), ia hanya menyatukan dua tangannya di dada seperti orang sunda dan membiarkan tanganku hanya menyalami angin. Kutarik tanganku dengan sebal. Belum tau mungkin dia, aku dikenal sebagai cowok beken di sekolahku; Juara Olimpiade Matematika, sering memenangkan lomba menulis dan membaca cerpen dan puisi, juara Umum Kelas IPA, dan YANG PALING PENTING; wajahku cukup ganteng dan enak dipandang!

Perempuan penjaga toko itu betul – betul meruntuhkan kepercayaan diriku. Sungguh! Jika bukan karena cinta banget sama Annida, aku tidak akan sudi mengunjungi tokonya! Sumpah!

Namun, seiring bertambahnya waktu, aku menangkap sesuatu yang lain pada perempuan itu. Sesuatu yang tak ku mengerti. Meskipun, pelan – pelan, ketika membaca KETIKA MAS GAGAH PERGI-nya Helvy Tiana Rosa yang direkomendasikannya, sedikit – sedikit aku mulai paham akan pilihan hidupnya.

“Sudah baca Manusia – Manusia Langit? Bukunya Mbak Helvy yang lain.” Ujarnya dengan suara beratnya.

Kulihat bandrol harga buku itu. Kemudian kuronggok sakuku. Ah, sayang sekali uangku tak cukup.

Ia seakan menangkap kegelisahanku.

“Saya punya. Kalau mau boleh dipinjam.” Ia mengulurkan buku itu ke tanganku.

Aku terpaku. Kemudian melihat diriku sendiri. Pada sahabat dekatku sekalipun, aku sangat sulit untuk meminjamkan bukuku. Dia? Seberapa jauh dia mengenalku?

Kuterima jua buku itu.

Semakin lama mengenalnya. Sungguh, aku semakin merasakan kebeningan perempuan itu. Setiap sore, di hari – hari tertentu, di tokonya yang kecil, begitu banyak para jilbaber yang berkunjung. Kalau hanya untuk membeli buku mungkin bisa dipahami, tapi para jilbaber itu begitu akrab dengannya. Seolah tak berjarak. Kuruntuhkan label tak ramah padanya. Ia begitu ramah dan seolah tak berjarak.

Perempuan itu betul – betul mengajarkan sesuatu padaku. Ia membuatku berpikir jauh tentang hidupku. Di tangannyalah aku pertama kali menemukan hidayah itu. Yang kugenggam dengan tangis dan renungan yang panjang.

Ia mengajarkan aku arti cinta yang sesungguhnya.

Setelah Al-Ikhwan, grup nasyid yang aku rintis mulai dikenal dan kami sering mendapatkan order untuk pentas, sering sekali aku bertemu dengan perempuan penjaga toko itu. Ia menjadi seksi sibuk di acara pernikahan teman – temannya. Kadang ia menjadi fotografer dadakan, atau membicarakan konsep acara dan ‘kontrak’ (walah!) dengan tim nasyidku.

Ia tak jua berubah. Masih tetap beku dan dingin. Tapi mendamaikan.

Setelah aku bergabung dengan sebuah partai politik, aku semakin mengenalnya. Karena diapun ternyata menjadi salah satu ‘pondasi’ partaiku itu. Ia begitu peduli.

Ah. Perempuan penjaga toko.... ijinkan kusebut namamu dalam tulisanku ini. Bukan untuk memujimu semata, tapi sebagai ungkapan terima kasih atas ketulusan dan semua hal yang tak mungkin kau sadari. Ya, kau pasti tak menyadarinya, ENGKAU ADALAH GURUKU MENGARIFI KEHIDUPAN!

Kak Asnah, begitulah engkau disapa. Sangat pendek. Tapi, dalam kependekan namamu yang kutahu, ada beribu makna yang hendak kau bagi pada semesta. Cinta yang tiada tara.

Semoga Allah selalu melangkahkan kakimu di jalan cahaya, mbak.... terima kasih telah menjadi salah satu guruku yang mengajariku cinta...***

ALHAMDULILLAH... NASKAH INI MENJADI JUARA 2 LOMBA MENULIS KISAH INSPIRATIF KADER PKS

Sumber : http://akhidirman.multiply.com/journal/item/159/PEREMPUAN-PENJAGA-TOKO-PEMENANG-LOMBA-KISAH-KADER-PKS

Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. DPC PKS Mustikajaya - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger