Kisah Kemustahilan "Ikhwah Lurah"

Rabu, 07 November 20120 komentar

Kisah Kemustahilan "Ikhwah Lurah"


Akh Welas & Ukhti Suryani (isteri)
Welasiman. Begitulah namannya. Tak pernah terpikirkan baginya kalau sekarang mendapat amanah yang besar dari masyarakat. Ikhwah 'cuma' jebolan STM ini Ahad kemarin (4/11) terpilih sebagai Pak Lurah dalam pilkades (Pemilihan Kepala Desa) desa Terong kecamatan Dlingo Kabupaten Bantul.

Bapak muda (38 th) yang sehari harinya bekerja di bengkel elektronik ini mulai terbiasa berorganisasi dan terjun dalam pelayanan masyarakat setelah bergabung dengan PK pada pemilu 1999. Semangat dan dedikasi yang tinggi membuatnya kemudian didaulat rekan-rekannya untuk menjadi Ketua DPC PKS kecamatan Dlingo selama dua periode (1999-2009). Dlingo merupakan tetangga kecamatan Piyungan, letaknya di pegunungan.

Kiprah keorganisasian dan kemasyarakatan yang didapat dari PKS membuat dirinya juga dipercaya warga sekitar untuk menjadi Ketua RT di dusun Pancuran selama dua periode (6 tahun) dan pada tahun kemarin 2011 beliau pun dipercaya dan dipilih sebagai perwakilan dusunnya untuk menjadi anggota BPD (Badan Permusyawaratan Desa, semacan DPRDnya desa).

Saat masyarakat mendesaknya untuk maju dalam pilkades kemarin awalnya beliau gamang karena tidak punya 'modal' layaknya yang dibutuhkan dalam pemilihan. Maklum beliau bukan orang berpunya. Penghasilan dari pekerjaan reparasi barang-barang elektronik hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Rumahnya saja 'cuma' rumah petak berdinding bambu. Namun kebulatan tekad warga yang siap all out mendukung akhirnya... bismillah beliau maju. Dan dengan motto kampanye 'Siap Berjuang Melayani Masyarakat Menuju Desa Yang Maju dan Bermartabat' alhamdulillah beliau terpilih. Dan kemenangan ini sangat ditentukan oleh hasil perolehan di dusunnya dengan menang mutlak dimana beliau meraih 96,4% suara.

Rumah asli Pak Lurah
Alhamdulillah tadi malam (6/11) kami bisa bersilaturohim dan bertemu dengan ikhwah lurah ini. Saat kami ke rumahnya kondisinya sepi dan gelap. Setelah kami telpon ternyata beliau sekeluarga sedang 'mengungsi' di rumah mertua yang masih satu dusun. Kamipun menuju ke rumah mertuanya.

"Setiap malam tamu-tamu dari dusun-dusun berdatangan, jadi kami sementara pindah ke rumah mertua yang lebih luas untuk menerima tamu," ungkapnya pada kami ditemani isteri beliau, bu Suryani.

Betul, kondisi rumah akh Welas (begitu kami memanggilnya) memang sangat sederhana. Kalau pak mensos tahu pasti akan masuk program 'bedah rumah'. hehe...

"Salam untuk semua ikhwah se-nusantara. Mohon doakan agar saya bisa mengemban amanah," tuturnya saat kami berpamitan.

Dalam hati kami bersyukur pada Allah. Jalan dakwah dan tarbiyah ini sudah diterima masyarakat. Pelayanan dan pengabdian yang tak kenal lelah pada masyarakat akan membuka hati mereka. Dan Allah pun akan menurunkan pertolonganNya bagi mereka yang istiqomah di jalanNya dan meyakini 'tiada kemustahilan bagiNya'.

sumber : pkspiyungan.com

Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. DPC PKS Mustikajaya - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger